Akar kecanduan air rebusan pembalut

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Akar kecanduan air rebusan pembalut

Sejumlah remaja yang tengah mabuk rebusan pembalut akhir-akhir ini ramai menjadi perbincangan sejumlah kalangan. Fenomena mabuk air rebusan pembalut masih tergolong cara baru untuk sesaat mengalihkan pecandunya dari beban hidup yang menjerat.

Pembalut selama ini memang dijadikan media untuk “terbang”. Di beberapa negara, perempuan menggunakan pembalut yang direndam dengan miras dosis tinggi seperti vodka lalu mengenakannya seperti saat sedang haid.

Di Indonesia, mabuk dengan air rebusan pembalut wanita sudah mulai menggejala pada 2016 di kalangan masyarakat ekonomi bawah, sebelum mengemuka gara-gara pengungkapan oleh polisi di Grobogan, Kudus, Pati, Rembang hingga Kota Semarang bagian Timur. Hal yang sama juga pernah terungkap di Jakarta, Bekasi, Karawang dan Belitung.

Menurut sejumlah sumber, salah satu kandungan pembalut yang dapat menimbulkan efek halusinasi atau “nge-fly” adalah toluene (cairan bening yang digunakan untuk pengencer cat). Toluen ini bukan jenis narkoba, tetapi termasuk prekursor untuk narkoba atau bahan lain yang secara industrial dilegalkan. Kalau dihirup, toluene dapat menimbulkan efek seperti narkoba.

Selama ini, media yang dijadikan alat untuk menghilangkan kesadaran di kalangan rakyat jelata adalah oplosan miras, obat batuk melebihi dosis, lem, atau bensin, karena mereka tidak mampu membeli narkoba. Jadi, air rebusan pembalut ini hanyalah media belaka, akar masalahnya adalah kecanduan. Selama akarnya belum dicabut, fenomena seperti ini akan terus muncul, dengan berbagai cara baru untuk mabuk.

Banyak pakar mengutarakan jawaban mengapa orang harus mabuk. Saya menyukai jawaban bahwa orang mabuk didasari niat untuk mengalihkan tekanan emosi. Orang seperti ini sejenak dapat rehat dari beban ketika kesadaran terenggut, akan tetapi pastinya objek candu akan menambah beban hidup bagi pecandunya.

Segala hal yang membuat kecanduan akan mengubah mood seseorang; objek candu ini akan mengubah cara orang berpikir dan bagaimana dia merasakan setiap fenomena. Pada tahap awal, orang yang kecanduan akan merasakan perubahan mood yang menyenangkan. Akan tetapi, setiap kecanduan tidak akan benar-benar membuat pelakunya merasa lebih baik. Bahkan, kecanduan pada tingkatan lanjut akan membuat penderitanya mati rasa. Proses seperti ini akan dilalui oleh setiap pecandu, dengan objek apa pun, tak terkecuali pecandu air rebusan pembalut yang didominasi anak-anak jalanan itu.

Jadi, jika Anda bertanya apa bedanya kecanduan ganja, sabu-sabu, alkohol, pornografi, rokok, judi, agama, lem, bensin, dan sebagainya, dari banyak sisi jawabnya tentu sama saja; yang membedakan hanya objek belaka. Dalam perjalanannya, setiap pecandu akan membutuhkan tambahan dosis untuk mendapatkan perasaan yang dikehendakinya. Pola-pola seperti ini juga terjadi pada kecanduan jenis apa saja.

Kecanduan adalah gejala yang sangat jelas dari gagalnya keluarga menjalankan fungsinya. Pakar psikologi keluarga terkemuka AS, John Bradshaw (1933-2016) dalam On the Family menyebutkan karakteristik sistem keluarga yang disfungsi, yakni: penuh kontrol, perfeksionis, mudah menyalahkan, menolak kebebasan anak mengekspresikan diri, tidak ada keterbukaan menyampaikan perasaan, suka menciptakan mitos (menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi), gemar berkonflik di depan anak tanpa resolusi, dan tidak bisa diandalkan untuk memenuhi harapan-harapan anak (misalnya karena miskin atau kesibukan).

Bagaimana dengan anak jalanan?

Jelas, mereka adalah anak-anak yang “hilang” akibat pengabaian dari keluarganya. Anak-anak sampai keliaran di luar rumah adalah karena ambruknya sistem keluarga yang dibina oleh kedua orang tua mereka. Anak-anak tersebut kemudian menciptakan “keluarga baru” bernama geng, komunitas, dan sejenisnya, yang diandaikan dapat memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai segi: apresiasi, perhatian, perasaan senasib, spontanitas, dan keceriaan.

Semua bentuk kecanduan adalah buruk. Pada kasus tertentu, pecandu tidak membahayakan orang lain, seperti kecanduan makanan. Akan tetapi, dalam lebih banyak hal mereka hanya menciptakan kerusakan di muka bumi. 

Namun, penting untuk melihat anak-anak tersebut sebagai korban. Mereka adalah manusia yang jiwanya pasti hampa; tak tahu bagaimana harus bahagia akibat kebutuhan (mulai perasaan hingga kebutuhan fisiologis) mereka selama ini diabaikan. Siapa pun orangnya tidak akan ke mana-mana kecuali menjadi pecandu. Hanya saja—yang membedakan—jika kecanduan makanan atau gadget, dunia tidak akan mengutuk.

Membutuhkan tangan banyak orang untuk mengatasi soalan anak jalanan. Saya yang selama beberapa tahun menjadi relawan pendidikan untuk anak-anak jalanan di Jakarta mendapati beberapa horor, seperti anak-anak kisaran 11-14 tahun yang di Minggu pagi belajar dengan tim kami, di hampir setiap malam ternyata dipaksa menjajakan diri untuk menjadi pemuas seks oleh orang tuanya. Mereka adalah baik anak laki-laki maupun perempuan, sangat mengiris hati.

Jadi, kasus kenakalan anak dan remaja seperti itu adalah puncak dari fenomena gunung es yang mengapung di samudera; di bawahnya adalah rusaknya sistem keluarga yang dikelola oleh masyarakat kita, yang selama ini kita tutup-tutupi dan sangkal. Sebagian kita kerap merasa bahwa cara mengelola  dan budaya membina keluarga kita adalah yang terbaik di dunia, sehingga setiap muda-mudi dilempar begitu saja ke dalam pernikahan tanpa arahan.

Anak remaja kecanduan air rebusan pembalut, lem, rokok, narkoba atau apa pun adalah “akibat”. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, “sebab”-nya harus dibereskan terlebih dulu. Jika harus mengedepankan hukuman, para penegak hukum dan pengambil keputusan perlu mempertimbangkan sanksi bagi orang tua yang menyebabkan anak-anak mereka berulah, supaya setiap orang lebih bertanggung jawab terhadap apa yang sudah menjadi amanahnya. Selebihnya, anak-anak telantar seperti itu adalah tanggungjawab negara, jika kita harus mengacu kepada UUD 45.

Prabowo perlu reuni 212 lagi jelang Pilpres 2019 jika ingin menang
Meluruskan cara pandang tentang pernikahan dan keluarga
Charta Politica: Pemindahan posko pemenangan BPN ke Jateng hanya psywar
Reforma Agraria era Jokowi dinilai di lajur yang benar
Markas BPN pindah, TKD: Apa urgensinya?
PAN akan sanksi DPD membelot ke kubu Jokowi
Cara Khabib Nurmagomedov habiskan 100 ribu dolar pertamanya
DPR minta Kemendagri ungkap e-KTP tercecer
Ibu dan bayi perempuannya tewas karena dokter mabuk
Dua RS Belanda hentikan impor potongan tubuh manusia dari AS
Filipina batal beli helikopter Rusia karena takut AS
Sejumlah kapal perang Rusia masuki  India
Salah sebut gelar Nabi, Prabowo dituntut minta maaf ke umat Islam
Sandiaga ganti strategi, BPN pindah posko pemenangan
Berkarya sebut dosen Universitas Andalas latah dan tak paham tata negara
Fetching news ...